Reumatoid Artritis
Rheumatoid artritis
Rheumatoid Artritis (RA) adalah penyakit kronis, yang berarti dapat berlangsung selama bertahun-tahun, pasien mungkin mengalami waktu yang lama tanpa gejala. Rheumatoid Artritis merupakan penyakit progresif biasanya yang memiliki potensi untuk menyebabkan kerusakan sendi dan kecacatan fungsional. Penyakit ini telah lama dikenal dan tersebar luas di seluruh dunia serta melibatkan ras dan kelompok etnik. Rheumatoid artritis lebih sering dijumpai pada wanita, dengan perbandingan wanita dan pria sebesar 3:1.
Perkembangan perjalanan rheumatoid arthritis terbagi dalam lima fase, yaitu:
Fase I: interaksi antara faktor genetika dan lingkungan
Fase II: produksi autoantibodi, seperti RF dan anti-CCP
Fase III: gejala arthralgia dan kekakuan sendi tanpa disertai bukti klinis arthritis
Fase IV: artritis pada satu atau dua sendi, yang dapat bersifat intermiten dan disebut sebagai palindromic rheumatism
Fase V: timbulnya tampilan klasik RA
patogenesis
- Nyeri sendi
- Sendi bengkak
- Sendi kemerahan, terasa hangat atau kaku (terutama pada pagi hari atau setelah lama tidak digerakkan)
- Nyeri pada pergelangan kaki saat berjalan di tanjakan.
- Nyeri pada tumit dan tulang kering saat berjalan di atas tanah yang tidak rata.
- Perubahan bentuk telapak kaki sehingga sulit memakai sepatu, serta bentuk jari kuku dan kuku kaki.
Kondisi di mana sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melindungi tubuh justru berbalik menyerang tubuh sendiri dinamakan autoimun. Penyebab timbulnya penyakit autoimun sendiri belum diketahui secara pasti, namun diduga terkait dengan faktor genetik.
Ada beberapa kondisi yang dapat meningkatkan risiko terjadinya rheumatoid arthritis, yaitu:
- Merokok.
- Terpapar bahan kimia, seperti asbes atau silika.
- Mengalami infeksi bakteri atau virus, serta cedera, misalnya patah tulang atau dislokasi sendi PengobatanPenatalaksanaan pada RA mencakup terapi farmakologi, rehabilitasi dan pembedahan bila diperlukan, serta edukasi kepada pasien dan keluarga. Tujuan pengobatan adalah menghilangkan inflamasi, mencegah deformitas, mengembalikan fungsi sendi, dan mencegah destruksi jaringan lebih lanjut (Kapita Selekta,2014).1. NSAID (Nonsteroidal Anti-Inflammatory Drug). Diberikan sejak awal untuk menangani nyeri sendi akibat inflamasi. NSAID yang dapat diberikan atara lain: aspirin, ibuprofen, naproksen, piroksikam, dikofenak, dan sebagainya. Namun NSAID tidak melindungi kerusakan tulang rawan sendi dan tulang dari proses destruksi.2. DMARD (Disease-Modifying Antirheumatic Drug). Digunakan untuk melindungi sendi (tulang dan kartilago) dari proses destruksi oleh Rheumatoid Arthritis. Contoh obat DMARD yaitu: hidroksiklorokuin, metotreksat, sulfasalazine, garam emas, penisilamin, dan azathioprine. DMARD dapat diberikan tunggal maupun kombinasi.3. Kortikosteroid. Diberikan kortikosteroid dosis rendah setara prednison 5-7,5mg/hari sebagai “bridge” terapi untuk mengurangi keluhan pasien sambil menunggu efek DMARDs yang baru muncul setelah 4-16 minggu.4. Rehabilitasi. Terapi ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Caranya dapat dengan mengistirahatkan sendi yang terlibat melalui pemakaian tongkat, pemasangan bidai, latihan, dan sebagainya. Setelah nyeri berkurang, dapat mulai dilakukan fisioterapi.5. Pembedahan. Jika segala pengobatan di atas tidak memberikan hasil yang diharapkan, maka dapat dipertimbangkan pembedahan yang bersifat ortopedi, contohnya sinovektomi, arthrodesis, total hip replacement, dan sebagainya.
Azathioprine
Penggunaan azathioprine bersama obat lain dapat menimbulkan interaksi, yaitu:
- Berisiko menimbulkan infeksi, jika digunakan bersama KB spiral atau vaksin.
- Berisiko menimbulkan kelainan darah, jika digunakan dengan obat hipertensi golongan ACE inhibitor, kotrimoksazol, indomethacin, atau cimetidine.
- Memperlambat pengolahan obat dalam tubuh, jika dikonsumsi dengan obat asam urat allopurinol.
Mengurangi efektivitas dan berisiko keracunan azathioprine, jika digunakan dengan ribavirin .
Efek Samping dan Bahaya Azathioprine
Penggunaan azathioprine dapat menimbulkan efek samping berupa:
- Sariawan
- Mual dan muntah
- Kehilangan selera makan
- Batuk
- Tenggorokan serak
- Susah kencing
- Peradangan pada pankreas
- Terkena infeksi
- Perdarahan
Farmakodinamik
Azathioprine merupakan analog purin yang bekerja dalam level DNA. Azathioprine dimetabolisme menjadi 6-mercaptopurine (6-MP). 6-MP terbentuk dengan reduksi azathioprine oleh glutation dan sulfidril lainnya. 6-MP kemudian dimetabolisme lebih lanjut membentuk metabolit lain yakni 6-metil-MP, 6-thiouric acid, dan 6-tioguanin
Farmakokinetik
Farmakokinetik azathioprine terdiri dari aspek absorbsi, distribusi, metabolisme, dan eliminasinya.
Absorbsi
Azathioprine diserap dengan baik di saluran cerna pada pemberian oral dan akan mencapai kadar maksimum dalam darah dalam 1-2 jam. Azathioprine memiliki waktu paruh selama 5 jam dengan kadar puncak plasma < 1 cmg/mL.
Distribusi
Azathioprine membentuk ikatan sedang dengan protein serum, sebanyak 30%. Bioavaibilitas 50%. Azathioprine menembus sawar darah plasenta.
Metabolisme
Azathioprine dimetabolisme di hepar. Hasil metabolisme azathioprine adalah 6-mercaptopurine (6-MP). Aktivasi 6-MP terbentuk melalui hypoxanthine-guanine phosphoribo-syltransferase (HGPRT) dan serangkaian aktivitas enzimatik, termasuk kinase, menghasilkan metabolit utama berupa 6-thioguanine nucleotides (6TGNs). Tioguanin nukleotida merupakan prekursor sintesis DNA dan berfungsi pada polimerase DNA.
Eliminasi
Baik azathioprine maupun 6-MP dieliminasi dengan cepat dari peredaran darah. Kedua komponen tersebut dioksidasi atau dimetilisasi di eritrosit dan hepar menjadi bentuk tidak aktif untuk diekskresikan melalui urin. Setelah 8 jam konsumsi, tidak ditemukan azathioprine maupun 6-MP di urin.
Eliminasi pada renal tidak dipengaruhi oleh pembersihan kreatinin, namun perlu dilakukan penyesuaian dosis pada penderita gangguan fungsi ginjal. Hal ini disebabkan karena ekskresi azatiophrine lebih lama pada pasien dengan gagal ginjal. Azathioprine terdialisa parsial
PERTANYAAN
1.bagaimana farmakologi azathioprine sebagai analog purin yang menghambat pertumbuhan sel limfosit t?
2. pada azathioprine bertugas untuk menurunkan sistem imun tubuh mengapa demikian?
3. apa yang terjadi pada patofisiologi rheumatoid arthritis ?
s
ba
a
a
ds
Alhamdulillah saya jadi dapat pengetahuan lebih.
BalasHapusTerimakasih yaa
Terima kasih penjelasan nya kk. Sangat bermanfaat ๐๐
BalasHapusGood job
BalasHapusGood
BalasHapusSangat bermamfaat
BalasHapusAkhirnya setelah saya membaca ini wawasan saya menjadi terbuka terima kasih
BalasHapusSangat bermanfaat untuk menambah pengetahuan. Mantap!
BalasHapussangat bermanfaat dan menambah ilmu๐
BalasHapussangat membantu, dan menambah ilmu maupun wawasan saya๐
BalasHapusHallo, sebelumnya terimakasih udah share ilmu karna ini sangat bermanfaat buat saya, serta menambah wawasan untuk saya :)
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusGood ๐๐ฝ
BalasHapusHallo, sebelumnya terimakasih udah share ilmu karna ini sangat bermanfaat buat saya, serta menambah wawasan untuk saya dan buat orang di luar sana
BalasHapusTerimakasih ilmunya sangat bermanfaat
BalasHapusArtikel nya sudah bagus dan lengkap
BalasHapusSangat bagus
BalasHapusSangat bermanfaat๐ thankyou
BalasHapusCukup menarik
BalasHapusSebats dlu
BalasHapusTerimakasih banyak atas ilmunya, artikelnya sangat bermanfaat ๐๐ป
BalasHapusArtikelnya mudah dipahami
BalasHapusWaw jadi gak sabar untuk blog selanjutnya
BalasHapus