ANTI HISTAMIN II "Turunan Propilamin dan Turunan Fenotiazin"

 TURUNAN PROPILAMIN

Obat golongan ini memiliki daya antihistamin yang kuat. Antihistamin golongan ini antara lain feniramin, khlorpheniramin, brompheniramin, dan tripolidin.  

Anggota kelompok yang jenuh disebut sebagai feniramin yang merupakan molekul khiral Turunan tersubstitusi halogen dapat diputuskan dengan kristalisaasi dari garam yang dibentuk dengan d-asam tartrat. Antihistamin golongan ini merupakan antagonis H1 yang paling aktif Mereka tidak cenderung membuat kantuk, tetapi beberapa pasien mengalami efek ini Pada anggota yang tidak jenuh, sistem ikatan rangkap dua aromatik yang koplanar Ar – C = CH-CH2 - N  faktor penting untuk aktivitas antihistamin. Gugus pirolidin adalah rantai samping amin tersier pada senyawa yang lebih aktif. Pada anggota alkena (tidak jenuh), aktivitas antihistamin konfigurasi E berbeda sangat menyolok dibandingkan dengan  konfigurasi Z, sebagai contoh: E-Pirobutamin sekitar 165 kali lebih poten dari pada Z-Pirobutamin; E-Triprolidin aktivitasnya sekitar  1000 kali lebih poten dibandingkan dengan Z-triprolidin. Perbedaan ini  dikarenakan jarak antara amina alifatik tersier dengan salah satu cincin aromatik sekitar 5-6 Ao, yang jarak tersebut diperlukan dalam ikatan sisi reseptor.
 
Beberapa Contoh Golongan Propilamin Jenuh, antara lain : 
a. Feniramin maleat; Avil ; Trimeton; Inhiston maleat  
Berupa garam yang berwarna putih dengan sedikit bau seperti amin yang larut dalam air, dan alkohol. Feniramin maleat merupakan anggota seri yang paling kecil potensinya dan dipasarkan sebagai rasemat. Dosis lazim : 20 – 40 mg, sehari 3 kali  
b. Klorfeniramin maleat ;  Chlortrimeton maleat; CTM ; Pehachlor  
Berupa puder kristalin putih, larut dalam air, alkohol dan kloroform. Mempunyai pKa 9,2 dan larutannya dalam air memounyai pH 4-5. Klorinasi ferinamin pada posisi para dari cincin fenil memberikan kenaikan potensi 10 x dengan perubahan toksisitas tidak begitu besar. Hampir semua aktivitas antihistamin terletak pada enantiomorf dektro. Dektro-klor dan brom feniramin lebih kuat daripada levonya.  
c. Dekstroklorfeniramin maleat = Polaramine maleat 
merupakan enantiomer klorfeniramin yang memutar  kekanan. Isomer ini aktivitas anti histaminnya paling dominan dan mempunyai konfigurasi S yang super imposable pada konfigurasi S enantiomorf karbinoksamin levorotatori yang lebih aktif
d.  Bromfeniramin maleat = Dometane maleat  
Kegunaan sama dengan klorfeniramin maleat senyawa ini mempunyai waktu kerja yang panjang dan efektif dalam dosis 50 x lebih kecil daripada dosis tripelenamin 
e. Dekstrobromfeniramin maleat = Disomer 
Aktivitasnya didominasi oleh isomer dekstro, dan potensinya sebanding.
pada contoh turunan propilamin jenuh contoh obatnya itu FENIRAMIN MALEAT
feniramin (nama dagang Avil antara lain) adalah antihistamin dengan sifat antikolinergik yang digunakan untuk mengobati kondisi alergi seperti demam atau urtikaria . Ini memiliki efek sedatif yang relatif kuat, dan kadang-kadang dapat digunakan di luar label sebagai pil tidur yang dijual bebas dengan cara yang mirip dengan antihistamin penenang lainnya seperti diphenhydramine . Feniramin juga biasa ditemukan dalam obat tetes mata yang digunakan untuk pengobatan konjungtivitis alergi.
 
Farmakodinamik
Mekanisme kerja pheniramine sebagai antagonis H1, adalah berkompetisi dengan aksi dari histamin endogenus, untuk menduduki reseptor-reseptor normal H1 pada sel-sel efektor di traktus gastrointestinal, pembuluh darah, traktus respiratorius, dan beberapa otot polos lainnya.
 
Farmakokinetik:
→ Absorpsi: Mudah diserap dari saluran pencernaan. Konsentrasi plasma puncak dalam 1-2,5 jam.
→ Metabolisme: Dimetabolisme menjadi N-desmethylpheniramine dan N-didesmethylpheniramine.
→ Ekskresi: Melalui urin (sebagai obat dan metabolit yang tidak berubah). Waktu paruh terminal: 8-17 jam (feniramin maleat IV); 16-19 jam (oral)
 
Interaksi dengan obat lain   
 → Dapat menutupi ototoksisitas yang dihasilkan oleh antibiotik aminoglikosida.
→ Berpotensi Fatal: Potensiasi depresi SSP oleh alkohol, sedatif, opioid, barbiturat, hipnotik, narkolepsi. Dapat meningkatkan efek antimuskarinik MAOIs, atropin dan TCA.
 
Indikasi
gejala alergi seperti hay fever, urtikaria.

Peringatan:
hamil, menyusui, mengganggu ketrampilan mengemudi dan menjalankan mesin, glaukoma sudut sempit, pasien dengan lesi fokal di korteks serebrum: sensitivitas silang dengan obat sejenis

Interaksi:
memperkuat efek trankuilizer; hipnotik, penghambat MAO, alkohol

Kontraindikasi:
hipertrofi prostat berat, serangan asma akut, bayi prematur

Efek Samping:
mengantuk, keluhan saluran cerna, mulut kering, palpitasi, retensi urin, halusinasi, gelisah, bingung pada dosis tinggi, agitasi pada anak, kenaikan tekanan intra okuler; jarang: diskrasia darah

Dosis:
oral: 22,5-30 mg 2-3 kali sehari.

Beberapa Contoh Turunan Propilamin tidak jenuh, Antara lain :  
a. Pirobutamin fosfat USP; Pyronil fosfat;  (E)-1-[4-(4-Klorofenil)-3-fanil-2-butenil]pirolidin difosfat.  
Berupa serbuk kristal putih yang larut dalam air panas sampai 10 %. Garam fosfatnya lebih mudah diabsorbsi daripada garam HCl nya
b.  Tripolidin HCl USP; Actidil HCl .  (E)-2-[3-(1-pirrollidinil)-1-p-tolil propenil)piridiimono hidroklorida
Berupa puder kristalin putih, larut dalam air, alkohol dan larutannya alkali terhadap lakmus. Aktivitasnya terutama ditentukan pada isomer geometriknya dimana gugus pirolidinometil adalah trans terhadap gugus 2-piridil. Studi farmakologi terbaru memastikan aktivitas tripolidin yang tinggi dan keunggulan isomer E terhadap isomer Z sebagai antagonis-H1.
 

TURUNAN FENOTIAZIN

Fenotiazin merupakan golongan obat antipsikotik yang digunakan untuk mengobati gangguan mental, seperti penderita skizofrenzia Contoh Obat : acepromazine, perphenazine,chlorpromazine, dan prochlorperzine, flufenazin

 
Farmakologi chlorpromazine
chlorpromazine
Salah satu derivat dari fenotiazin adalah Klorpromazin (CPZ) adalah 2-klor-N-(dimetil-aminopropil)-fenotiazin. Derivat fenotiazin lain dapat dengan cara substitusi pada tempat 2 dan 10 inti fenotiazin. CPZ  menimbulkan efek sedasi disertai sikap acuh tak acuh terhadap rangasangan lingkungan. Pada pemakaina lama dapat timbul toleransi terhadap efek sedasi. Klorpromazin berefek antispikosis terlepas dari efek sedasinya.

Mekanisme kerja:
Obat anti psikosis memblokade dopamine pada reseptor pasca sinaptik neurondi otak, prosesnya di sistem limbik dan sistem ekstrapiramidal (dopamine D2 reseptor antagonis). Obat anti psikosis yang baru (misalnya risperidone) di samping berafinitas terhadap dopamine D2 reseptor juga terhadap serotonin.
Farmakokinetik:
Kebanyakan antipsikosis absorbsi sempurna, sebagian diantaranya mengalamimetabolisme lintas pertama. Biovailabilitas klorpromazin dan tioridazin berkisar antara 25-35%sedangkan haloperidol mencapai 65%. Kebanyakan antipsikosis bersifat larut dalam lemak danterikat kuat dengan protein plasma(92-99%) serta mamiliki volume distribusi besar ( >7 L/kg).Metabolit klorpromazin ditemukan di urin sampai beberapa minggu setelah pemberian obat terakhir
Indikasi:
lihat pada dosis; antiemetik, penggunaan prabedah.

Peringatan:
penyakit kardiovaskular dan serebrovaskular, penyakit pernapasan, parkinsonisme, epilepsi, infeksi akut, hamil, menyusui, gangguan ginjal dan hati, riwayat sakit kuning, leukopenia, hipotiroidisme, miastenia gravis, hipertrofi prostat, glaukoma sudut sempit, hati-hati pada lansia, hindari pemutusan obat tiba-tiba, setelah injeksi intra muskular pasien sebaiknya tetap tiduran selama 30 menit. (Catatan: obat ini dapat menyebabkan sensitisasi kontak. Hindari kontak langsung).
    
Kontraindikasi:
koma karena depresan SSP, depresi sumsum tulang, hindari pada feokromositoma, gangguan hati dan ginjal berat.

Efek Samping:
gejala ekstra piramidal, tardive dyskinesia, hipotermia (kadang-kadang panas), mengantuk, apatis, pucat, mimpi buruk, insomnia, depresi, agitasi, perubahan pola EEG, kejang, gejala anti muskarinik yang terdiri atas: mulut kering, hidung tersumbat, konstipasi, kesulitan buang air kecil, dan pandangan kabur; gejala kardiovaskular meliputi: hipotensi, takikardi dan aritmia.
Dosis:
oral : 10-25 mg, tiap 4-6 jam. ANAK 500 mcg/kg bb tiap 4-6 jam; 15 tahun maksimal 40 mg/hari, 6-12 tahun maksimal 75 mg/hari.Injeksi intramuskular dalam: dosis awal 25 mg, kemudian 25-50 mg tiap 3-4 jam sampai muntah berhenti. ANAK: 500 mcg/kg bb tiap 6-8 jam (15 tahun maksimal 40 mg/hari, 6-12 tahun maksimal 75 mg/hari).

 DAFTAR PUSTAKA
 
Hoan, Tan. Rahardja, Kirana. 2002. Obat-obat Penting: Khasiat, Penggunaan, danEfek-efek Sampingnya. Jakarta: PT Elex Media Komputindo. Hal 78
 
Siswandoyo dan B. Soekardjo. 2008. Kimia Medisinal jilid 2. Jakarta : Airlangga University Press.  
 
PERTANYAAN:
1. bagaimana turunan fenotiazin digolongkan obat antipsikotik pada antihistamin, dan padahal yang kita ketahui antihistamin itu digambarkan secara luas untuk alergi, gatal,dan kerap mengatasi mual dan muntah? mengapa demikian
2.fenotiazin tersedia dalam bentuk sediaan apa saja dan bentuk sediaan manakah yang paling tepat digunakan dan mmpunyai efek farmakologi yang baik ?
3. feniramin memiliki efek sedasi yang relatif kuat, apakah efek jika menggunakan feniramin ini dalam jangka panjang?


Komentar

  1. terimakasih maya, materinya sangat membantu. izin menjawab pertanyaan nomor 1 mengenai efek psikosis pada turunan fenotiazin. seperti yang ada pada pertanyaan antihistamin dapat digambarkan secara luas untuk alergi, gatal dan kerap mengatasi mua dan muntah.

    Namun menurut Tjay dan Rahardja (2007) pada buku ' Obat-obat penting : Edisi ke Enam' Golongan fenotiazin contohnya klorpromazin memiliki efek anti-psikosis karena obat ini dapat memperkuat efek analgetika, sehingga membuat pasien acuh tak acuh pada rasa nyeri. Makadari itu kombinasi obat antihistamin dan analgetika harus berdasarkan resep dokter.

    BalasHapus
  2. Hai, blognya sangat menarik! Kalo boleh saya bantu jawab pertanyaan nomor 2.
    Obat turunan Fenotiazin memiliki beberapa bentuk sediaan antara lain: tablet, injeksi dan suppositoria. Diantara 3 bentuk sediaan tersebut yang mempunyai efek farmakologis yang baik ialah injeksi dan suppositoria, tetapi dalam penggunaannya tergantung pada kondisi seseorang. Bila orang tersebut mempunyai sifat yang mudah muntah atau tidak sadarkan diri sebaiknya digunakan suppositoria, bila ingin memperoleh efek yang lebih cepat menggunakan bentuk sediaan injeksi. Sebab senyawa obat dapat masuk ke pembuluh darah sehingga cepat mencapai sel ataupun jaringan target.
    Semoga membantu ! :)

    BalasHapus
  3. Terimaksih maya ilmunya sangat bermanfaat. Izin menjawab pertnyaan no 3. Feniramin bisa menyebabkan kantuk atau bradikardia, sedangkan penggunaan jangka panjang bisa menyebabkan gangguan tidur. Orang yang menggunakan cortisol dalam jangka waktu yang panjang sebaiknya menghindari penggunaan feniramin karena bisa mengurangi kadar adrenalin (efinefrin) yang bisa menyebabkan kehilangan kesadaran.

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. hai maya, saya ingin membantu menjawab pertanyaan nomor 1 ya, menurut Pusat Informasi Obat Nasional BPOM, pada BAB IV yaitu bagian Sistem Saraf Pusat disebutkan bahwa fenotiazin juga tergolong dalam obat Antipsikotis dan memiliki efek sebagai neuroleptika (tranquilizer mayor) dengan cara menghambat (agak) kuat reseptor dopamin (D2) di sistem limbis otak dan di samping itu juga menghambat resep¬tor D1/D4, α1 (dan α2)-adrenerg, serotonin, muskarin, dan histamin sehingga fenotiazin dapat mengurangi halusinasi dan agitasi, Menenangkan dan mengurangi gerakan fisik spontan. semoga membantu :)

    BalasHapus
  6. Artikelnya menarik dan sangat membantu, terima kasih yaa

    BalasHapus
  7. Alhamdulillah artikel nya sangat menarik dan menambah pengetahuan saya

    BalasHapus
  8. Terima kasih penjelasan nya kk. Sangat bermanfaat 😇😇

    BalasHapus
  9. Lanjutkan terus untuk menambah pengetahuan masyarakat umum. Mantap!

    BalasHapus
  10. sangat bermanfaat dan menambah ilmu👍

    BalasHapus
  11. Artikel nya sangat bagus dan menarik, membantu saya menambah ilmu dan wawasan, terimakasih penjelasannya.

    BalasHapus
  12. Hallo, sebelumnya terimakasih udah share ilmu karna ini sangat bermanfaat buat saya, serta menambah wawasan untuk saya :)

    BalasHapus
  13. Artikel yang sangat menarik 👍🏽

    BalasHapus
  14. Alhamdulillah artikel nya sangat menarik dan menambah pengetahuan saya

    BalasHapus
  15. Haiii nurmayaa, ilmunya sangat bermanfaat.
    Terimaksih yaaa

    BalasHapus
  16. Sangat bermanfaat dan menambah ilmu👍 thankyou

    BalasHapus
  17. Artikelnya sangat membantu menambah pengetahuan tentang pengobatan antihistamin, semangat terus yaa

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

HEMATOLOGI I "Pembekuan Darah dan Antikoagulansia

Reumatoid Artritis

HEMATOLOGI II (Fibrinolisis dan AntiFibrinolitika)